Beranda > Uncategorized > >Kehidupan malam di Hong Kong

>Kehidupan malam di Hong Kong

>

Kalau kita mengenal kehidupan malam yang bersifat ‘esek-esek’ di negeri lain, tidak demikian dengan Hong Kong. Kehidupan malamnya tetap saja penuh dengan suara kresek-kresek alias tas plastik belanjaan.

Ini cerita waktu saya masih kerja sebagai expat di Hong Kong tentang kehidupan malam disana.

Saat anda jalan kaki, anda akan leluasa menyusuri jalanan dan “menyeberangi” gedung-gedung pencakar langit. Bagi yang gak biasa berjalan kaki untuk jarak yang jauh, mungkin akan cepat merasa lelah. Kalau lelah, silakan menumpang angkutan umum dan jangan merasa khawatir, angkutan umum di Hong Kong sangat komplit dengan pelayanan serba otomatis.

Berjalan kaki menyusuri Hong Kong memang super asyik. Jangankan para turis, bahkan warga Hong Kong sendiri juga hobi banget melakukan aktivitas sehat ini. Pada hari kerja, ribuan pejalan kaki memenuhi lorong-lorong dan trotoar. Puncak kepadatan pejalan kaki terjadi saat berangkat kerja, makan siang, dan pulang kerja. Emang tidak beda jauh sama Jakarta, hanya saja di Jakarta padat oleh kendaraan bermotor.

Berjalan kaki di Hong Kong pada malam hari menyusuri jalan yang terkenal sangat ramai di kawasan Kowloon sangat jauh dari kesan seram. Kowloon merupakan distrik tersibuk di Hongkong. Lalulintas kendaraan cukup padat namun teratur karena pengemudi kendaraan berlalu lintas dengan disiplin dan sopan santun yang baik. Pejalan kaki juga disiplin mematuhi aturan berjalan di trotoar dan menyeberang jalan di tempat yang telah disediakan.

Ambil contoh, ketika belanja di Ladies Market, Mongkok, kawasan Kowloon. Pedagang disitu memang baru mulai menggelar dagangan pada sore hari hingga menjelang tengah malam. “Menggelar”? Betul sekali, soalnya barang dagangan diletakkan dibawah tenda seperti layaknya kawasan Blok M di Jakarta. Bedanya, Ladies Market sangat terjamin kebersihannya, sehingga para pembeli merasa nyaman dan betah berlama-lama menyusuri lorong demi lorong dipasar malam ini.

Ladies Market

Walaupun namanya Ladies Market, tapi pasar ini ternyata tidak cuma menjual barang-barang buat wanita. Disini ada beragam barang, termasuk aneka cinderamata khas Hong Kong, gantungan kunci, baju sutra, tas, kaos berlogo Hong Kong (“I’m lost in Hong Kong”… anyone?), pasmina yang lagi ‘in’, dan lain-lain. Seni memilih barang dan menawar harga mutlak diperlukan disini… jadi, buat yang udah biasa belanja dipasar, silahkan unjuk gigi. Tawarlah mulai dari sepertiga harga yang ditawarkan, meski kita harus siap-siap mendengar ocehan kesal si pedagang dalam bahasa Kanton. Cuek aja… tinggal bales pake bahasa Indonesia, dia tidak bakalan ngerti…

Masih belom ngantuk juga? Jangan takut, masih ada Temple Street, Yau Ma Tei. Disini kita akan menemukan lapak-lapak seperti di Ladies Market, tapi dengan variasi jenis dagangan yang lebih sedikit. Selain itu, turis bisa iseng-iseng mampir ke deretan tenda peramal yang mematok tarif sekitar 20 Dollar Hong Kong.

Temple Street

Tidak jauh dari tenda-tenda peramal, sepanjang Nathan Road di kawasan Kowloon banyak terdapat rumah makan. Kehalalan makanannya sangat meragukan. Di Nathan Road ada bangunan megah yang berpagar tembok tinggi dengan kubah menjulang tinggi pada bangunan tersebut. Bangunan itu adalah masjid Kowloon. Dijalan tersebut ad yang pertunjukan teater tradisional Cina. Walaupun tidak mengerti bahasa Cina, para penonton atau pejalan kaki yang melintas dapat mengabadikan pertunjukan tersebut atau berfoto bersama para pemain.

Masjid Kowloon

Buat yang suka ke kota Bandung di Indonesia, pasti tahu kawasan restoran atas bukit seperti “The Valley” atau “The Peak”. Hong Kong pun menawarkan panorama malam yang tidak kalah mempesona. “The Peak” merupakan pilihan terbaik. Dari sana, seluruh wajah Hong Kong terpampang, mulai dari taman, gedung-gedung pencakar langit, sampai pelabuhan. Malam hari memang saat terbaik buat menikmati pemandangan seindah itu. Tapi harus lihat-lihat cuaca juga, soalnya kabut seringkali menyambangi wilayah bekas koloni Inggris ini.

Intinya, kehidupan malam di Hong Kong tidak beda jauh sama kehidupan terangnya. Semuanya balik-balik lagi ke belanja, belanja, dan belanja. Wajar aja, karena Hong Kong punya banyak banget pusat perbelanjaan yang memajang aneka produk bermerek terkenal. Tidak salah kalau Hong Kong dijuluki “surga belanja dunia’.

Panorama dari atas Victoria Peak di Hong Kong Island.
(karena tidak punya camera yang canggih ini foto saya pinjam dari Wikipedia)

Buat yang berjiwa adventurous, pusat-pusat perbelanjaan yang gemerlap seperti Pacific Place, SOGO, Times Square, Harbour City kalah menarik dibanding suasana lorong-lorong kecil namun bersih khas Hong Kong. Ketika menapaki lorong itulah kita bisa merasakan Hong Kong yang sebenar-benarnya….

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: