Beranda > Uncategorized > >Berkembanglah, Hidup Terus Berjalan…

>Berkembanglah, Hidup Terus Berjalan…

>JAKARTA, KOMPAS.com – Soft skills bukan hanya positif jika dibentuk sejak dini, karena pengembangan diri terus berjalan hingga seseorang semakin tumbuh dewasa dengan beragam masalah dan kendalanya yang berbeda-beda. Proses pembelajaran tentang pengembangan diri dibutuhkan hingga seseorang merasa hidup dengan sukses mulia. Maksudnya?

Hidup selalu berubah dan harus terus dilanjutkan. Untuk itulah, jika siswa di pendidikan menengah dan mahasiswa perlu dibantu sedini mungkin untuk bisa didorong pengembangan dirinya untuk merencanakan karir di masa mendatang, saat dewasa dan menjadi eksekutif melatih pengembangan diri dibutuhkan untuk menemukan solusi esensial terhadap realita permasalahan hidup sehari-hari, baik di keluarga, lingkungan, serta tempat kerjanya.

Demikian diungkapkan Indrawan Nugroho, Learning Innovator dari DNA Sukses Mulia Entertrainment di Jakarta, Jumat (4/3/2011) lalu. Menurutnya, pelatihan pengembangan diri dapat secara langsung meningkatkan kualitas hidup dan mendongkrak produktivitas kerja yang pada tahap selanjutnya adalah meraih kehidupan terbaik, yang sukses mulia.

“Sebuah kehidupan saat kita berhasil meraih harta, tahta, kata, serta cinta yang tinggi pada saat yang sama, dan kita akan menggunakan semua itu sebagai sumber manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain,” ujar Indrawan.

Menurutnya, pelatihan pengembangan diri perlu ketika seseorang ingin meningkatkan kualitas dirinya. Karena dengan begitulah seseorang akan terarah dalam menghadapi permasalahan hidupnya baik di rumah maupun di tempat kerja.

“Di sinilah seorang peserta mulai memahami apa yang menjadi DNA atau unsur pembentuk kehidupan itu sendiri. Kemudian ia perlu belajar cara merekayasa DNA itu sehingga nantinya akan mampu menikmati kualitas hidup dan pekerjaan yang terbaik untuk dirinya,” papar Indrawan.

Ia mengatakan, rekayasa dilakukan dengan cara melakukan intervensi yang bertubi-tubi terhadap DNA kehidupan melalui serangkaian kebiasaan yang didesain secara khusus. Di tempatnya memberikan pelatihan, lanjut Indrawan, kebiasaan itu kerap disebutnya dengan Modus SuksesMulia yang terdiri dari lima modus, yaitu: Asah Pilihan, Aktifkan Dayapancar, Pacu Mesin, Nikmati Masalah, dan Tabung Epos.

Provokasi

Menurut Indrawan, pelatihan harus berfokus pada penjelasan dari masing-masing modus tersebut, berikut dengan panduan pelaksanaannya. Pelatihan juga harus dapat membantu peserta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan genetik dirinya dengan menggunakan teknologi mutakhir fingerprint atau tes sidik jari.

Ia menuturkan, materi pelatihan yang baik harus selalu disajikan secara Surprising, Inspring, dan Provoking, yang kerap ia sebut dengan SIP. Surprising, lanjut dia, akan membuat peserta terkejut, penasaran, bertemu dengan ide-ide segar dan fakta-fakta baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sementara itu, Inspiring adalah pesan-pesan yang diberikan dalam pelatihan untuk membuat hati peserta tersentuh, terenyuh dan terhanyut.

“Sehingga apa yang peserta dapatkan akan terpatri kuat dan yakin betul di dalam hatinya,” ungkap instruktur yang akan hadir di City Walk Sudirman, Jakarta, Sabtu (12/3/2011), pekan ini.

Provoking, kata Indrawan, pelatihan harus bisa memancing emosi, membakar semangat, dan menghidupkan rasa percaya diri peserta untuk segera bergerak menjalankan setiap arahan yang diberikan. Peserta harus “terprovokasi” untuk berubah dari kebiasaannya.

“Ini semua tentu untuk menyadarkan, mendorong, dan membimbing peserta untuk mampu menjawab berbagai permasalahan hidup dan selalu memberikan yang terbaik dalam hidup dan pekerjaannya,” ujar Indrawan yang sudah 11 tahun berkarya di Indonesia.

Satu hal lagi, lanjut Indrawan, pelatihan harus bisa menggali metode-metode terbaru dalam penyampaiannya, seperti menggabungkan konsep pelatihan dan hiburan (entertainment). Dengan begitulah, pelatihan dapat dikemas dalam bentuk pertunjukan dengan dukungan teknologi tata cahaya dan multimedia modern yang menyenangkan, sehingga seseorang yang membutuhkan pelatihan tidak sempat mengernyitkan dahi karena bad mood.

“Karena sebagai instruktur harus mampu membuat setiap peserta yang hadir benar-benar merasakan dan ikut terlibat terhadap pesan yang ingin disampaikan. Dengan begitulah, dampak yang dihasilkan pun benar-benar dahsyat,” imbuhnya.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: