Beranda > Uncategorized > >Pararaton 2

>Pararaton 2

>Kata orang Pandakan: “Aduh, tuanku, itu akan tidak baik kalau sampai terjadi Gajah Pagon didapati di sini, mustahil akan ada hamba yang menyetujui di Pandakan. Kehendak hamba, biarlah ia berada di dalam pondok di hutan saja, di ladang tempat orang menyabit ilalang, di tengah-tengahnya setelah dibersihkan, dibuatkan sebuah dangau, sunyi, tak ada seorang hamba yang mengetahui, hamba di Pandakan nanti yang akan memberi makan tiap tiap hari.”

Gajah Pagon lalu ditinggalkan, Raden Wijaya selanjutnya menuju ke Datar, pada waktu malam hari. Sesampainya di Datar, lalu naik perahu. Tentara Daha lalu kembali pulang. Putri yang muda masih terus ditawan, dibawa ke Daha, dipersembahkan kepada raja Jayakatong.

Ia senang diberi tahu tentang Batara Siwabuddha wafat. Raden Wijaya menyeberang ke Utara, turun di daerah perbatasan Sungeneb, bermalam di tengah tengah sawah yang baru saja habis disikat, pematangnya tipis. Sora lalu berbaring meniarap, Raden Wijaya dan putri bangsawan itu duduk di atasnya. Pagi harinya melanjutkan perjalanannya ke Sungeneb, beristirahat di dalam sebuah balai panjang, hamba-hamba disuruh melihat-lihat, kalau-kalau Wiraraja sedang duduk di hadap hamba-hambanya. Kembalilah mereka yang disuruh itu, memang Wiraraja sedang dihadap.

Berangkatlah Raden Wijaya menuju tempat Wiraraja di hadap; terperanjatlah Wiraraja melihat Raden itu, Wiraraja turun, lalu masuk ke dalam rumah, bubarlah yang menghadap. Terhenti hati Raden Wijaya, berkata kepada Sora dan Ranggalawe: “Nah, apakah kataku, saya sangat malu, lebih baik aku mati pada waktu aku mengamuk dahulu itu.”

Maka ia kembali ke balai panjang, kemudian Wiraraja datang menghadap, berbondong-bondong dengan seisi rumah, terutama istrinya, bersama-sama membawa sirih dan pinang.

Kata Ranggalawe: “Nah, tuanku, bukankah itu Wiraraja yang datang menghadap ke mari.” Maka senanglah hati Raden Wijaya. Istri Adipati mempersembahkan sirih kepada Raden Wijaya.

Wiraraja itu meminta, agar Raden Wijaya masuk di perumahan Adipati. Sang putri bangsawan naik kereta, istri Wiraraja semua berjalan kaki, mengiring putri bangsawan itu, dan Wiraraja mengiring Raden Wijaya

Setelah datang di rumah tempat Wiraraja tidur. Raden Wijaya dihadap di dalam balai nomor dua sebelah luar, ia menceritakan riwayat bagaimana Sang bhatara yang gugur di tengah-tengah minum minuman keras itu meninggal dunia, juga menceritakan bagaimana ia mengamuk orang Daha.

Berkatalah Wiraraja: “Sekarang ini, apakah yang menjadi kehendak Tuan?” Raden Wijaya menjawab: “Saya minta persekutuanmu, jika sekiranya ada belas kasihanmu.” Sembah Wiraraja: “Janganlah tuanku khawatir, hanya saja hendaknya Tuan bertindak perlahan-lahan.”

Selanjutnya Wiraraja mempersembahkan kain, sabuk, dan kain bawah; semuanya dibawa oleh istri-isterinya, terutama istri pertamanya. Kata Raden: “Bapa Wiraraja, sangat besar hutangku kepadamu, jika tercapailah tujuanku, akan kubagi menjadi dua Tanah Jawa nanti, hendaknyalah kamu menikmati seperduanya, saya seperdua.” Kata Wiraraja: “Bagaimana saja tuanku, asal tuanku dapat menjadi raja saja.” Demikianlah janji Raden Wijaya kepada Wiraraja.

Luar biasa pelayanan Wiraraja terhadap Raden Wijaya, tiap-tiap hari mempersembahkan makanan, tak usah dikatakan tentang ia mempersembahkan minuman keras. Lamalah Raden Wijaya bertempat tinggal di Sungeneb. Di situ Arya Wiraraja berkata: “Tuanku, hamba mengambil muslihat, hendaknya tuanku pergi menghamba kepada Raja Jayakatong, hendaknyalah Tuan seakan akan minta maaf dengan kata-kata yang mengandung arti tunduk. Kalau sekiranya Raja Jayakatong tak berkeberatan Tuan menghamba itu, hendaknyalah Tuan lekas lekas pindah bertempat tinggal di Daha. Kalau rupanya sudah dipercaya, hendaknyalah Tuan memohon hutan orang Terik kepada Raja Jayakatong, hendaknyalah Tuan membuat desa di situ. Hamba-hamba Maduralah yang akan menebang hutan untuk dijadikan desa, tempat hamba-hamba Madura yang menghadap tuanku dekat.

Ada pun maksud tuanku menghamba itu, agar Tuan dapat melihat lihat orang-orang Raja Jayakatong, siapa yang setia, yang berani, yang penakut, yang pandai, terutama juga hendaknyalah Tuan ketahui sifat-sifat Kebo Mundarang. Sesudah itu semua dapat diukur, hendaknyalah tuanku memohon diri pindah ke hutan orang Terik yang sudah diubah menjadi desa oleh hamba-hamba Madura itu. Masih ada perlunya lagi, ialah: jika ada hamba-hamba tuanku yang berasal dari Tumapel ingin kembali menghamba lagi kepada Tuan, hendaknyalah Tuan terima, meski pun hamba-hamba dari Daha juga. Jika mereka ingin mencari perlindungan kepada Tuan, hendaknyalah Tuan lindungi, jika semua itu sudah, maka tentara Daha tentu terkuasai oleh tuanku. Sekarang hamba akan berkirim surat kepada Raja Jayakatong.”

Berangkatlah orang yang disuruh mengantarkan surat, menyeberang ke selatan, menghadap Raja Jayakatong, mempersembahkan surat itu. Ada pun bunyi surat: “Tuanku, Patik Baginda memberi tahu, bahwa cucu Paduka Baginda mohon ampun, ingin takluk kepada Paduka Baginda. Hendaknyalah Paduka Baginda maklum, terserah apakah itu diperkenankan atau tidak diperkenankan oleh Paduka Tuan.” Kata Raja Jayakatong: “Mengapa kami tidak senang, kalau Buyung Arsa Wijaya akan menghamba kepada kami.” Selanjutnya disuruh kembalilah utusan itu untuk menyampaikan kata-katanya.

Setelah utusan datang lalu menyampaikan perintah. Surat telah dibaca di muka Raden Wijaya dan di muka Wiraraja. Wiraraja senang. Segera Raden Wijaya kembali ke Pulau Jawa, diiring oleh hamba-hambanya, dihantarkan oleh orang-orang Madura, dan Wiraraja juga menghantarkan kembali di Terung. Setelah datang di Daha, ia dengan tenteram dapat menghadap Raja Jayakatong, sangat dicintai. Ketika ia datang di Daha, kebetulan tepat pada hari raya Galungan, hamba-hambanya disuruh oleh raja untuk mengambil bagian di dalam pertandingan. Menteri-menteri Daha sangat heran, karena orang orang itu baik semua, terutama Sora, Rangga Lawe, Nambi, Pedang dan Dangdi, mereka bersama sama lari ketempat pertandingan di Manguntur negara Daha. Bergantilah menteri-menteri Daha lari, di antaranya yang merupakan prajurit utama, ialah: Panglet, Mahisa Rubuh, dan Patih Kebo Mundarang, mereka ketiga tiganya kalah cepat larinya dengan Rangga Lawe dan Sora.

Lama kelamaan Raja Jayakatong mengadakan pertandingan tusuk-menusuk. “Putraku Arsa Wijaya, hendaknyalah kamu ikut bermain tusuk-menusuk, kami ingin melihat, menteri-menteri kamilah yang akan menjadi lawanmu.” Jawab Raden Wijaya: “Baiklah, tuanku.” Bertandinglah mereka tusuk-menusuk itu, riuh rendah suara bunyi-bunyian, orang yang melihat penuh tak ada selatnya, orang-orang Raja Jayakatong sering kali terpaksa lari. Kata Raja Jayakatong: “Pintalah Buyung Arsa Wijaya, jangan ikut serta, siapakah yang berani melawan tuannya.”

Raden Wijaya berhenti, kini sepadanlah pertandingan tusuk-menusuk itu, kejar-mengejar, kemudian Sora menuju ke arah Kebo Mundarang, Rangga Lawe menuju Panglet, dan Nambi menuju ke Mahisa Rubuh. Akhirnya terpaksa lari menteri-menteri Daha itu menghadapi orang orang Raden Wijaya, tak ada yang mengadakan pembalasan, lalu bubar. Sekarang Raden Wijaya telah melihat, bahwa menteri-menteri Daha dikalahkan oleh orang orangnya.

Lalu ia berkirim surat kepada Wiraraja, selanjutnya Wiraraja menyampaikan pesan, agar Raden Wijaya memohon hutan orang Terik. Raja Jayakatong memperkenankan. Inilah asal-usul orang mendirikan desa di hutan orang Terik.

Ketika desa sedang dibuat oleh orang-orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit.

Raden Wijaya telah dapat memperhitungkan keadaan Daha. Majapahit telah berupa desa. Orang-orang Wiraraja yang mengadakan hubungan dengan Daha, beristirahat di Majapahit. Wiraraja berkirim pesan kepada Raden Wijaya, bagaimana caranya memohon diri kepada Raja Jayakatong.

Sekarang Raden Wijaya meminta izin pindah ke Majapahit. Raja Jayakatong memperkenankannya, lengah karena rasa sayang dan karena kepandaian Raden Wijaya menghamba itu seperti sungguh-sungguh. Setelah Raden Wijaya pindah ke Majapahit, lalu memberi tahu kepada Wiraraja, bahwa menteri-menteri Daha telah dapat dikuasai olehnya dan oleh hamba-hambanya semua. Raden Wijaya mengajak Wiraraja menyerang Daha, Wiraraja menahan, berkata kepada utusannya:

“Jangan tergesa-gesa, masih ada muslihat saya lagi, hendaknyalah kamu, wahai utusan, bersembah kepada tuanmu, saya ini berteman dengan raja Tatar, itu akan kutawari putri bangsawan, hendaknyalah kamu utusan, pulang ke Majapahit sekarang. Sepergimu saya akan berkirim surat ke Tatar. Ada perahuku, itu akan saya suruh ikut serta ke Tatar, agar menyampaikan ajakan menyerang Daha. Jika raja Daha telah kalah, maka seluruh Pulau Jawa tak ada yang menyamai, itu nanti dapat dimiliki oleh raja Tatar, demikian itu penipuanku terhadap raja Tatar. Hendaknyalah kamu memberi tahu kepada Sang Pangeran, bahwasanya ini supaya raja itu mau ikut serta mengalahkan Daha.” Utusan pulang kembali ke Majapahit, Raden Wijaya senang diberi tahu semua pesan Wiraraja itu.

Sesudah utusan kembali, Wiraraja lalu berkirim utusan ke Tatar. Wiraraja pindah ke Majapahit, seisi rumah dan membawa tentara dari Madura, ialah semua orang Madura yang baik dibawa beserta senjatanya. Setelah utusan datang dari Tatar, lalu menyerang Daha.

Tentara Tatar keluar dari sebelah utara, tentara Madura dan Majapahit keluar dari timur, Raja Jayakatong bingung, tak tahu mana yang harus dijaga. Kemudian diserang dengan hebat dari utara oleh tentara Tatar. Kebo Mundarang, Panglet, dan Mahisa Rubuh menjaga tentara dari timur. Panglet mati oleh Sora, Kebo rubuh mati oleh Nambi, Kebo Mundarang bertemu dengan Rangga Lawe, terpaksa larilah Kebo Mundarang, dapat dikejar di lembah Trinipati, akhirnya mati oleh Rangga Lawe. Kebo Mundarang berpesan kepada Rangga Lawe: “Wahai Rangga Lawe, saya memunyai seorang anak perempuan, hendaknyalah itu diambil oleh Ki Sora sebagai anugerah atas keberaniannya.”

Raja Jayakatong yang bertempur ke Utara, bersenjatakan perisai, diserang bersama-sama oleh orang orang Tatar, akhirnya tertangkap dan dipenjara oleh orang Tatar.

Raden Wijaya lekas-lekas masuk ke dalam istana Daha, untuk melarikan putri bangsawan yang muda, lalu dibawa ke Majapahit. Sedatangnya di Majapahit orang-orang Tatar datang untuk meminta putri-putri bangsawan, karena Wiraraja telah menyanggupkan itu, jika Daha telah kalah, akan memberikan dua orang putri bangsawan yang berasal dari Tumapel, kedua-duanya semua.

Maka bingunglah para menteri semua, mencari cari kesanggupan lain. Sora berkata: “Nah, saya saja yang akan mengamuk bilamana orang orang Tatar datang ke mari.” Arya Wiraraja menjawab: “Sesungguhnya, wahai Buyung Sora, masih ada muslihatku lagi.” Maka dicari-dicarilah kesanggupan-kesanggupan. Itulah yang dimusyawarahkan oleh menteri-menteri. Sora menyatakan kesanggupannya: ” Tak seberapa kalau saya mengamuk orang-orang Tatar.”

Pada waktu sore hari, waktu matahari sudah condong ke barat, orang orang Tatar datang meminta putri- putri bangsawan. Wiraraja menjawab: “Wahai, orang-orang Tatar semua, janganlah kamu kalian tergesa-gesa, putri-putri raja itu sedang sedih, karena telah cemas melihat tentara-tentara pada waktu Tumapel kalah, lebih-lebih ketika Daha kalah, sangat takut melihat segala yang serba tajam. Besok pagi saja mereka akan diserahkan kepada kamu, ditempatkan ke dalam kotak, diusung, dihias dengan kain kain, dihantarkan ke perahumu. Sebabnya mereka ditempatkan di dalam peti itu karena mereka segan melihat barang barang yang tajam, dan yang menerimanya putri-putri bangsawan itu, hendaknyalah jangan orang Tatar yang jelek, tetapi orang orang yang bagus. Jangan membawa teman, karena janji putri-putri bangsawan itu, kalau sampai terjadi melihat yang serba tajam, meski sudah tiba di atas perahu, mereka akan terjun ke dalam air. Bukankah akan sia-sia saja, bahwasanya kalian telah mempertaruhkan jiwa itu jika putri-putri bangsawan ini sampai terjadi terjun ke dalam air.”

Percayalah orang-orang Tatar, ditipu itu. Kata seorang Tatar: “Sangat betul perkataan Tuan.” Sesudah datang saat perjanjian menyerahkan putri-putri bangsawan itu, orang-orang Tatar datang berbondong-bondong meminta putri-putri bangsawan, semua tak ada yang membawa senjata tajam.

Setelah mereka masuk ke dalam pintu Bayangkara, orang-orang Tatar itu ditutupi pintu, dikunci dari luar dan dari dalam, Sora telah menyisipkan keris pada pahanya. Sekonyong-konyong orang-orang Tatar diamuk oleh Sora, habis, mati semua. Ranggalawe mengamuk kepada mereka yang berada di luar balai tempat orang menghadap, dikejar sampai ke tempat ke mana saja mereka lari, ke muara Canggu, diikuti dan dibunuh.

Kira-kira sepuluh hari kemudian, mereka yang pergi berperang, datang dari Malayu, mendapat dua orang putri, yang seorang dikawin oleh Raden Wijaya, ialah yang bernama Raden Dara Petak; ada pun yang tua bernama Dara Jingga, kawin dengan seorang Dewa, melahirkan seorang anak laki laki menjadi raja di Malayu, bernama Tuan Janaka, nama nobatannya: Sri Warmadewa alias Raja Mantrolot.

Peristiwa Malayu dan Tumapel itu bersamaan waktunya pada tahun Saka: Pendeta Sembilan Bersamadi atau 1197.

Raja Katong naik di atas takhta kerajaan di Daha pada tahun Saka: Ular Muka Dara Tunggal atau 1198. Setelah Raja Katong datang di Junggaluh ia mengarang kidung: Wukir Polaman, selesai mengarang kidung ia wafat.

Bagian 7

Sekarang Raden Wijaya menjadi raja pada tahun Saka: Rasa Rupa Dua Bulan atau 1216. Kemudian ia memunyai seorang anak laki-laki dari Dara Petak, nama kesatriannya: Raden Kalagemet. Ada pun dua orang anak perempuan Batara Siwabuddha, yang dibayang-bayangkan kepada orang Tatar, keduanya itu juga dikawin oleh Raden Wijaya, yang tua menjadi ratu di Kahuripan, yang muda menjadi ratu di Daha. Nama nobatan Raden Wijaya pada waktu menjadi raja: Sri Kertarajasa. Di dalam tahun pemerintahannya ia mendapat penyakit bisul berbengkak. Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257.

Bagian 8

Raden Kalagemet menggantikannya menjadi raja, nama nobatannya: Bhatara Jayanagara. Sri Siwabuddha dicandikan di Tumapel, nama resmi candi: Purwa Patapan. Berdiri candi itu berselat 17 tahun dengan peristiwa Ranggalawe.

Ranggalawe akan dijadikan patih, tetapi urung, itulah sebabnya maka ia mengadakan pemberontakan di Tuban, dan mengadakan perserikatan dengan kawan-kawannya. Telah terjadi orang-orang Tuban di gunung sebelah utara dimasukkan di dalam perserikatannya, mereka itu semua menaruh perhatian kepada Ranggalawe. Nama orang orang yang menyetujuinya, ialah: Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Galatik, Ra Tati, mereka itu teman teman Ranggalawe pada waktu berontak.

Ada pun sebabnya ia pergi dari Majapahit itu: merebut kedudukan. Mahapati menjalankan fitnah dengan bahan kata-kata Ranggalawe: “Jangan banyak bicara, di dalam kitab Partayadnya ada tempat untuk penakut-penakut.” Setelah terdengar, bahwa Ranggalawe berontak, Mahapati-lah yang memberi memberi tahu hal itu, maka Raja Jayanagara marah, semua teman teman Ranggalawe di dalam pemberontakan itu mati, hanya Ra Gelatik yang masih hidup, karena ia disuruh berbalik hati. Peristiwa Ranggalawe itu pada tahun Saka: Kuda Bumi Sayap Orang atau 1217.

Wiraraja memohon diri untuk bertempat tinggal di Lamajang, yang luasnya tiga daerah juru, karena Raden Wijaya telah berjanji akan membagi dua Pulau Jawa, dan akan menganugerahkan daerah lembah Lumajang sebelah selatan dan utara beserta daerah tiga juru.

Telah lama itu dinikmati oleh Wiraraja, Nambi masih menjadi patih, Sora menjadi demung dan Tipar menjadi tumenggung. Tumenggung pada waktu itu lebih rendah dari pada demung.

Wiraraja tidak kembali ke Majapahit, ia tidak mau menghamba. Setelah berselat tiga tahun dari peristiwa Ranggalawe maka terjadilah peristiwa Sora. Sora difitnah oleh Mahapati, dan Sora ini dapat dilenyapkan, dibunuh oleh Kebo Mundarang, pada tahun Saka: Baba Tangan Orang atau 1222.

Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa-jasa perangnya tidak diperhatikan. Pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi izin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama-lama. Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara.

Wiraraja meninggal dunia. Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun.

Ada peristiwa gunung meletus, ialah Gunung Lungge pada tahun Saka: Api Api Tangan Satu atau 1233. Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora.

Juru Demung mati pada tahun Saka: Keinginan Sifat Sayap Orang atau 1235.

Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun Saka: Rasa Sifat Sayap Orang atau 1236.

Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana. Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana. Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi. Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri-menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang. Nambi berkata: “Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding-banding, orang orang di sebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang-orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng, atau Ikal Ikalan Bang, saya tak akan gentar, biar selaksa semacam itu di depan dan di belakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat.”

Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak; Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama-tama. Seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan.

Jabung Terewes, Lembu Peteng, dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama-sama menyerang Nambi. Nambi gugur, demikian pula teman-teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang-orang di sebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah pada tahun Saka: Ular Menggigit Bulan atau 1238.

Peristiwa Wagal dan Mandana itu bersamaan waktunya. Berselat dua tahun Peristiwa Wagal dengan Peristiwa Lasem. Semi dibunuh, ia mati dibawah pohon kapuk, pada tahun Saka: Bukan Kitab Suci Sayap Orang atau 1240. Sesudah itu terjadi peristiwa Ra Kuti. Ada dua golongan Darmaputra Raja, mereka ini dahulunya adalah pejabat pejabat yang diberi anugerah raja, banyaknya tujuh orang, bernama: Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca, dan Ra Banyak.

Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh, karena difitnah oleh Mahapati. Akhirnya Mahapati diketahui melakukan fitnahan, ia ditangkap, dan dibunuh seperti seekor babi hutan, dosanya akan pergi sendiri ke Bedander. Ia pergi pada waktu malam, tak ada orang tahu, hanya orang-orang Bayangkara mengiringkannya, semua yang kebetulan mendapat giliran menjaga pada waktu raja pergi itu, banyaknya 15 orang. Pada waktu itu Gajah Mada menjadi kepala bayangkara dan kebetulan juga sedang menerima giliran menjaga, itulah sebabnya ia mengiring raja pada waktu raja pergi dengan menyamar itu. Lamalah raja tinggal di Bedander. Adalah seorang pejabat, ia memohon izin akan pulang ke rumahnya, tidak diperbolehkan oleh Gajah Mada, karena jumlah orang yang mengiring raja hanya sedikit, ia memaksa akan pulang, lalu ditusuk oleh Gajah Mada. Maksud ia menusuk itu, ialah: “Jangan jangan ia nanti memberi tahu, bahwa raja bertempat tinggal di rumah kepala Desa Bedander, sehingga Ra Kuti dapat mengetahuinya.”

Kira-kira lima hari kemudiannya Gajah Mada memohon izin untuk pergi ke Majapahit. Sedatangnya di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh para Amanca Negara tentang tempat raja, ia mengatakan, bahwa raja telah diambil oleh teman-teman Kuti.

Orang orang yang diberi tahu semuanya menangis, Gajah Mada berkata: “Janganlah menangis, apakah Tuan-tuan tidak ingin menghamba kepada Ra Kuti?” Menjawablah yang diajak berbicara itu: “Apakah kata Tuan itu? Ra Kuti bukan tuan kami.” Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa Raja berada di Bedander, Gajah Mada lalu mengadakan persetujuan dengan para menteri, mereka semua sanggup membunuh Ra Kuti, dan Ra Kuti mati dibunuh.

Raja pulang dari Bedander, kepala desa ditinggalkan, selanjutnya ia menjadi orang yang terkenal pada waktu itu. Sesudah Raja pulang, maka Gajah Mada tak lagi menjadi Kepala orang orang Bayangkara, dua bulan lamanya ia mendapat cuti dibebaskan dari kewajiban. Ia dipindah menjadi Patih di Kahuripan, dua tahun lamanya menjadi patih itu. Sang Arya Tilam, patih di Daha meninggal dunia, Gajah Mada menggantinya, ditempatkan menjadi patih di Daha, patih Mangkubumi Sang Arya Tadah menyetujui, ialah yang menyokong Gajah Mada menjadi patih di Daha itu.

Raja Jayanagara memunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri. Pada waktu itu tak ada kesatria di Majapahit, tiap-tiap kesatria yang tampak lalu dilenyapkan, jangan-jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatria- kesatriya bersembunyi tidak keluar. Istri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja. Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan Raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap di dekat tempat tidur. Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya. Lalu Raja diminta agar meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya di dekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, sehingga mati di tempat tidur itu. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.

Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun Saka: Abu Unsur Memukul Raja atau 1250. Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan. Pada waktu itu para kesatria menginjakkan kaki di Majapahit lagi. Raden Cakradara dipilih pada sayembara menjadi suami Sri Ratu di Kahuripan.

Raden Kuda Merta kawin dengan sri ratu di Daha. Raden Kuda Merta menjadi raja di Wengker, Sri Paduka Prameswara di Pamotan, nama nobatannya: Sri Wijayarajasa. Adalah anak Raden Cakradara, menjadi raja di Tumapel, nama nobatannya Sri Kertawardana.

Bagian 9

Sri Ratu di kahuripan menjadi raja pada tahun Saka: Sunyi Keinginan Sayap Bumi atau 1250. Sri Ratu di Kahuripan itu memunyai tiga orang anak, ialah: Bhatara Prabu, panggilannya Sri Hayam Wuruk; Raden Tetep sebutannya jika ia bermain kedok; Dalang Tritaraju jika ia bermain wayang dan melawak; Gagak Ketawang di kalangan pemeluk agama Siwa: Mpu Janeswara nama nobatannya Sri Rajasa Nagara; sebagai Prabu: Seri Baginda Sang Hyang Wekasing Suka.

Adiknya perempuan kawin dengan Raden Larang, yang juga disebut Baginda di Matahun, tidak mempunyai anak. Adiknya yang bungsu, ialah: Sri Ratu di Pajang, kawin dengan Raden Sumana, yang juga disebut Baginda di Paguhan, ini adalah saudara sepupu Sri Ratu di Kahuripan. Istri Baginda di Gundal, dicandikan di Sajabung, nama resmi candi itu: Bajra Jina Parimita Pura.

Selanjutnya terjadi peristiwa Sadeng. Tadah yang menjadi patih Mangkubumi menderita sakit, sering sekonyong konyong tak berkuasa menghadap, memajukan permohonan kehadapan Paduka batara untuk diijinkan berhenti, tidak dikabulkan oleh Seri Ratu di Kahuripan, Sang Arya Tadah kembali pulang, memanggil Gajah Mada, mengadakan pembicaraan di ruang tengah, Gajah Mada diminta menjadi Patih di Majapahit, meski tidak berpangkat Mangkubumi: “Saya akan membantu didalam soal soal yang luar biasa,” Gajah Mada berkata: ” Anaknda tidak sanggup jika menjadi patih sekarang ini, jika sudah kembali dari Sadeng, hamba mau menjadi patih, itupun jika tuan suka memaafkan segala kekurangan kemampuan anaknda ini.””Nah, buyung, saya akan membantu didalam segala kesukaran, dan didalam soal soal yang luar biasa.”Sekarang besarlah hati Gajah Mada, mendengar kesanggupan sang Arya Tadah itu. kini ia berangkat ke Sadeng.

Para menteri araraman dibohongi, juga Patih Mangkubumi juga kena tipu, bahwasanya Kembar telah lebih dahulu mengepung Sadeng. Mangkubumi marah, memberi perintah kepada menteri luar, banyak mereka yang berangkat lima satuan, dikepalai oleh bekel, masing-masing satuan terdiri dari lima orang.

Kembar dijumpai di dalam hutan, mereka berdiri di atas pohon yang roboh, berayun-ayun seperti orang naik kuda sambil melambai-lambaikan cambuk kepada mereka yang menyuruh agar Kembar kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Disampaikanlah pesan dari para menteri semua, terutama juga dari Gusti Patih Mangkubumi, menyuruh agar Kembar kembali, karena dikabarkan mendahului mengepung orang-orang Sadeng.

Dicambuklah muka orang yang menyuruh kembali, tidak kena karena berlindung dibalik pohon, Kembar lalu berkata: “Tidak ada orang yang diindahkan oleh Kembar ini, didalam perang saja tidak mau mengindahkan tuanmu itu.”Pergilah yang mendapat perintah untuk menyuruh kembali tadi, dan memberi tahu semua yang dikatakan oleh Kembar. Gajah Mada diam, merasa sangat diperolok olok, orang orang Sadeng dikepung, Tuhan Waruju seorang Dewa Putera dari Pamelekahan, jikalau membunyikan cambuk, terdengar di ruang angkasa, terperanjat orang Majapahit.Segera Sang Sinuhun tadi datang, mengalahkan Sadeng.

Peristiwa Tanca dan Sadeng itu berselat tiga tahun, pada tahun Saka: Tindakan Unsur Lihat Daging, atau 1256. Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi angabehi; Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar, dan Arya Rahu mendapat pangkat; Lembu Peteng menjadi tumenggung. Gajah Mada menjadi patih mangkubumi, tidak mau mengambil istirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau-pulau di luar Majapahit sudah kalah, saya akan istirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahat. Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan. Kembar memperolok-olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan-celaan.

Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. Lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan Batara di Koripan, Baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah. Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua.

Bagian 10

Selanjutnya terjadi peristiwa orang-orang Sunda di Bubat. Sri Baginda Prabu mengingini putri Sunda. Patih Madu mendapat perintah menyampaikan permintaan kepada orang Sunda, orang Sunda tidak berkeberatan mengadakan pertalian perkawinan. Raja Sunda datang di Majapahit, ialah Sang Baginda Maharaja, tetapi ia tidak mempersembahkan putrinya.

Orang Sunda bertekad berperang, itulah sikap yang telah mendapat sepakat, karena Patih Majapahit keberatan jika perkawinan dilakukan dengan perayaan resmi, kehendaknya ialah agar putri Sunda itu dijadikan persembahan. Orang Sunda tidak setuju. Gajah Mada melaporkan sikap orang-orang Sunda. Baginda di Wengker menyatakan kesanggupan: “Jangan khawatir, Kakak Baginda, sayalah yang akan melawan berperang.” Gajah Mada memberitahu tentang sikap orang Sunda. Lalu orang Majapahit berkumpul, mengepung orang Sunda.

Orang Sunda akan mempersembahkan putri Raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan-bangsawannya, mereka ini sanggup gugur di medan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya. Kesanggupan bangsawan-bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada pihak Sunda yang bersemangat ialah: Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gempong, Panji Melong, orang-orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuan Usus, Tuan Sohan, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja. Semua rakyat Sunda bersorak.

Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh. Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama-sama dengan Tuhan Usus.

Sri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang-orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan-bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.
Ada pun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, ialah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya. Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada. Masing-masing orang Sunda yang tiba di muka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang-orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun Saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi atau 1279. Peristiwa Sunda itu bersama-sama dengan peristiwa Dompo.

Sekarang Gajah Mada menikmati masa istirahat, sebelas tahun ia menjadi Mangkubumi.

Berhubung dengan putri Sunda itu mati, maka Bhatara Prabu lalu kawin dengan anak perempuan Baginda Parameswara, ialah: Paduka Sori. Dari perkawinan itu lahirlah seorang anak perempuan, ialah Sri Ratu di Lasem Sang Ayu. Dari perkawinannya dengan istri lain, lahirlah Baginda di Wirabhumi, yang diambil menjadi anak angkat Sri Ratu di Daha.

Sri Ratu di Pajang memunyai tiga orang anak: Sri Baginda Hyang Wisesa, nama kesatriannya Raden Gagak Sali, namanya sebagai Raja Aji Wikrama, kawin dengan Sri Ratu di Lasem ialah: Sang Ayu, lalu memunyai seorang anak, ialah: Sri Baginda Wekasing Suka, anak yang kedua perempuan, ialah: Sri Ratu di Lasem Sang Alemu, kawin dengan Baginda di Wirabhumi. Ada pun anak yang ketiga juga perempuan, menjadi Sri Ratu di Kahuripan.

Ada lagi anak Baginda di Tumapel, nama kesatriannya Raden Sotor, menjadi hino di Koripan, lalu pindah menjadi hino di Daha, selanjutnya menjadi hino di Majapahit, ini memunyai seorang anak laki laki, ialah: Raden Sumirat, kawin dengan Sri Ratu di Kahuripan dan menjadi raja dengan sebutan Baginda di Pandan Salas.

Lalu terjadi peristiwa upacara selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung pada tahun Saka: Empat Ular Dua Tunggal atau 1284. Sang Patih Gajah Mada wafat pada tahun Saka: Langit Muka Mata Bulan atau 1290, tiga tahun lamanya tak ada yang mengganti menjadi patih. Gajah Enggon menjadi patih pada tahun Saka: Sifat Sembilan Sayap Orang atau 1293. Sri Ratu di Daha wafat, dicandikan di Adilangu, nama resmi candi itu Gunung Purwawisesa.

Sri Ratu di Kahuripan wafat, dicandikan di Panggih, nama resmi candinya Gunung Pantarapura. Selanjutnya terjadi peristiwa gunung baru pada tahun Saka: Ular Liang Telinga Orang atau 1208. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, pada minggu Madasia, tahun Saka: Pendeta Sunyi Sifat Tunggal atau 1307. Baginda di Tumapel wafat, ia wafat di Suniyalaya pada tahun Saka: Gajah Sunyi Tindakan Ekor atau 1308, dicandikan di Japan, nama resmi candi itu Sarwa Jaya Purwa.

Baginda Hyang Wisesa memunyai anak:
(1) Sri Baginda di Tumapel;
(2) perempuan, ialah: Sri Ratu Prabu-istri, yang lalu memunyai nama nobatan: Dewi Suhita;
(3) bungsu laki laki, ialah: Baginda di Tumapel alias Sri Kertarajasa.

Baginda di Pandan Salas memunyai anak:

(1) Baginda di Koripan, alias Baginda Hyang Parameswara, nama nobatannya Aji Ratna Pangkaja, kawin dengan Seri Ratu Prabu-istri, tidak berputra;
(2) perempuan, Sang Ratu di Mataram, yang kawin dengan Baginda Hyang Wisesa;
(3) perempuan, Sang Ratu di Lasem, yang kawin dengan Baginda di Tumapel;
(4) perempuan lagi, Sang Ratu di Matahun.

Baginda di Tumapel memunyai anak laki laki, menjadi raja di Wengker, kawin dengan Sri Ratu di Matahun; anak kedua menjadi raja di Paguhan; anak ketiga lahir dari istri muda, perempuan, ialah: Sri Ratu di Jagaraga, kawin dengan Baginda Parameswara, tidak beranak; anak kelima, ialah: Sang Ratu di Pajang, juga kawin dengan Baginda di Paguhan, jadi dibayuh sama-sama saudara, tidak memunyai anak. Baginda di Keling kawin dengan Seri Ratu di Kembang Jenar.

Anak laki-laki Baginda di Wengker ialah Baginda di Kabalan. Baginda di Paguhan memunyai anak dari istri kelahiran golongan kesatria, perempuan ialah: Sang Ratu di Singapura, kawin dengan Baginda di Pandan Salas. Baginda Parameswara di Pamotan, wafat pada tahun Saka: Langit Rupa Menggigit Bulan atau 1310, ia dicandikan di Manyar, nama resmi candinya Wisnu Bawana Pura. Seri Ratu di Matahun wafat, dicandikan di Tiga Wangi, nama resmi candi itu Kusuma Pura. Paduka Sori wafat. Sang Ratu di Pajang wafat, dicandikan di Embul, nama resmi candi Girindra Pura. Baginda di Paguhan wafat, dicandikan di Lobencal, nama resmi candi Parwa Tiga Pura. Baginda Hyang Wekasing Suka, wafat pada tahun Saka: Bumi Rupa Ayah Ibu atau 1311.

Bagian 11

Baginda Hyang Wisesa dinobatkan menjadi raja. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus di dalam minggu Prangbakat pada tahun Saka: Muka Orang Tindakan Ular atau 1317. Selanjutnya Gajah Enggon meninggal dunia pada tahun Saka: Sunyi Sayap Tindakan Orang atau 1320; ia menjadi patih 27 tahun lamanya. Baginda Hyang Wekasing Suka mengangkat Gajah Manguri menjadi patih. Baginda Hyang Wekasing Suka wafat, ia wafat di Indra Bawana, pada tahun Saka: Orang Mata Api Bulan atau 1321, dicandikan di Tanjung, nama resmi candi Parama Suka Pura. Baginda Hyang Wisesa menjadi pendeta pada tahun Saka: Mata Sayap Api Bulan atau 1322.

Bagian 12

Sri Ratu Bhatara Isteri dinobatkan menjadi Raja. Sang Ratu di Lasem wafat di Kawidyadaren, dicandikan di Pabangan, nama resmi candi: Laksmi Pura. Sang Ratu di Kahuripan wafat.

Sang Ratu di Lasem yalah Sang Ratu Gemuk wafat. Baginda di Pandan Salas wafat, dicandikan di Jinggan, nama resmi candi Sri Wisnu Pura. Baginda Hyang Wisesa bercekcok dengan Baginda Wirabhumi, mereka segan bersama sama berbicara, saling diam mendiamkan, akhirnya berpisah sampai itu terjadi pada tahun Saka 1323. Tiga tahun kemudian lalu terjadi lagi huru-hara. Kedua-duanya mengumpulkan orang-orangnya. Baginda di Tumapel dan Baginda Hyang Parameswara diminta datang. “Siapakah yang harus kami ikuti?” Maka terjadilah perang malang.

Ia masygul dan bertekad akan pergi. “Baginda jangan tergesa-gesa pergi, sayalah yang akan melawan.” Baginda Hyang Wisnu menurut dan mengumpulkan orang-orangnya lagi, dihulubalangi oleh Baginda di Tumapel. Di daha diambil oleh baginda Hyang Wisesa, dibawa ke atas perahu, dikejar oleh Raden Gajah yang memunyai nama nobatan Ratu Angabaya. Baginda Narapati terkejar di dalam perahu, dibunuh, dipenggal kepalanya, dibawa ke Majapahit, dicandikan di Lung, nama resmi candinya Gorisa, pada tahun Saka: Ular Sifat Menggigit Bulan atau 1328, pada tahun itu terjadi huru-hara ini. Empat tahun kemudiannya Gajah Manguri meninggal dunia pada tahun Saka: Sayap Sifat Tindakan Orang atau 1332. Gajah Lembaga menjadi patih, lamanya 12 tahun.

Selanjutnya terjadi peristiwa gunung meletus di dalam minggu Julung Pujut pada tahun Saka: Tindakan Kitab Suci Sifat Orang atau 1343. Gajah Lembana meninggal dunia pada tahun Saka: Api Api Tindakan Bumi atau 1335. Tuan Kanaka menjadi patih lamanya 3 tahun.

Sri Ratu di Daha wafat, Sri Ratu di Matahun wafat, Sri Ratu di Mataram wafat.

Selanjutnya terjadi masa kekurangan makan yang sangat lama pada tahun Saka: Ular Jaman Menggigit Orang atau 1348. Baginda di Tumapel wafat pada tahun Saka: Sembilan Zaman Tindakan Orang atau 1349, dicandikan di Lokerep, nama candinya Asmarasaba. Baginda di Wengker wafat, dicandikan di Sumengka.

Bagian 13

Tuan Kanaka meninggal dunia pada tahun Saka: Sayap Luka Sifat Orang atau 1363. Tujuh belas tahun lamanya menjadi patih. Sri Ratu di Lasem wafat di Jinggan.

Baginda di Pandan Salas wafat. Raden Jagulu, Raden Gajah dilenyapkan, karena dianggap melakukan dosa, ialah: memenggal kepala Baginda di Wirabhumi, pada tahun Saka: Unsur Memanah Telur Tunggal atau 1355. Sri Ratu di Daha menjadi raja pada tahun Saka: Sembilan Lima Api Bulan atau 1359. Baginda Parameswara wafat, ia wafat di Wisnu Bawana, pada tahun Saka: Ular Golongan Api Bulan atau 1359, dicandikan di Singajaya.

Baginda Keling wafat, dicandikan di Apa Apa. Sri Ratu Prabu-istri wafat pada tahun Saka: Sembilan Rasa Api Bulan atau 1369, dicandikan di Singajaya.

Bagian 14

Lalu Baginda Tumapel mengganti menjadi raja. Baginda di Paguhan melenyapkan orang-orang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan ke Majapahit. Lalu terjadi gempa bumi pada tahun Saka: Sayap Golongan Menggigit Bulan atau 1372. Baginda di Paguhan wafat di Canggu, dicandikan di Sabyantara. Baginda Hyang wafat, dicandikan di Puri.

Baginda di Jagaraga wafat. Seri Ratu di Kabalan wafat, dicandikan di Pajang Wafat, dicandikan menjadi satu di Sabyantara. Lalu terjadi gunung meletus di dalam minggu Kuningan, pada tahun Saka: Belut Pendeta Menggigit Bulan atau 1373. Baginda Prabu wafat pada tahun Saka: Api Gunung Tindakan Ekor atau 1373, nama resmi candinya Kerta Wijaya Pura.

Bagian 15

Baginda di Pamotan menjadi raja di Pamotan menjadi raja di Keling, Kahuripan, nama nobatannya Sri Rajasawardana. Sang Sinagara, dicandikan di Sepang pada tahun Saka: Keinginan Kuda Menggigit Orang atau 1375.

Bagian 16

Tiga tahun lamanya tidak ada raja.

Bagian 17

Lalu Baginda di Wengker menjadi raja, nama nobatannya Baginda Hyang Purwa Wisesa, pada tahun Saka: Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan atau 1378. Lalu terjadi peristiwa gunung meletus di dalam minggu Landep, pada tahun Saka: Empat Ular Tiga Pohon atau 1384. Baginda di Daha wafat pada tahun Saka: Golongan Pendeta Api Tunggal atau 1386.

Baginda Hyang Purwa Wisesa wafat, dicandikan di Puri, pada tahun Saka: Pendeta Ular Api Bulan atau 1388. Lalu Baginda di Jagaraga wafat.

Bagian 18

Baginda di Pandan Salas menjadi raja di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu pada tahun Saka: Pendeta Ular Tindakan Tunggal atau 1388. Ia menjadi Prabu dua tahun lamanya. Selanjutnya pergi dari istana. Anak anak sang Sinaraga ialah: Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, Baginda di Pamotan, dan yang bungsu Baginda Kertabhumi. Ini adalah paman Baginda yang wafat di dalam kedatuan pada tahun Saka: Sunyi Tidak Zaman Orang atau 1400.

Lalu terjadi peristiwa gunung meletus, di dalam minggu Watu Gunung pada tahun Saka: Tindakan Angkasa Laut Ekor atau 1403. Demikian itulah kitab tentang para datu.

Selesai ditulis di Itcasada di Desa Sela Penek pada tahun Saka: Keinginginan Sifat Angin Orang atau 1535. Diselesaikan ditulis hari Pahing, Sabtu, minggu Warigadyan, tanggal dua, tengah bulan menghitam, bulan kedua. Semoga ini diterima baik oleh yang berkenan membaca, banyak kekurangan dan kelebihan huruf hurufnya, sukar dinikmati, tak terkatakan berapa banyaknya memang rusak, memang ini adalah hasil dari kebodohan yang meluap-luap berhubung baru saja belajar. Semoga panjang umur, mudah-mudahan demikian hendaknya, demikianlah, semoga selamat bahagia, juga si penulis ini.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: