Beranda > Uncategorized > >Kehidupan Malam Kota Waingapu

>Kehidupan Malam Kota Waingapu

>Waingapu terus menata diri sebagai gerbang Pulau Sumba, berbagai terobosan dan langkah inovatif terus dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Sumba Timur (Sumtim). Berbagai hal positif terus dirasakan warga. Namun ibarat satelit yang terus menguntit, sisi negatif geliat kota Waingapu terus membayangi. Seiring dengan tumbuh kembangnya aktifitas ekonomi masyarakat kota, dunia malam kota Waingapu pun mulai bergelora, ada sesuatu yang perlu untuk disibak dan sesegera mungkin disikapi guna dibenahi. Beberapa tempat yang dulunya dilirik sebelah mata, ternyata kini  menyimpan sisi yang cukup kelam. Beberapa sudut Sabana Sumtim yang masih dalam wilayah kota Waingapu, bisa disulap oleh segelintir orang menjadi ‘Taman Eden’ tatkala aksi berbugil ria alias ‘ukur badan’ dipraktekan.
Mungkin menjadi rahasia umum para penikmat dan para petualang cinta dan asmara sesaat, beberapa tempat yang jika disiang hari nampak mempesona dan menjanjikan keindahan, malamnya ternyata penuh lenguhan dan desahan birahi dari oknum-oknum mengumbar hasrat birahi yang boleh jadi hanya sekelumit yang berlandaskan cinta sejati.
Beberapa tempat seperti sekitar patung Kuda  (Km.9 arah barat Kota Waingapu) yang sejatinya meruapakn pintu gerbang kota Waingapu dari arah barat, dibalik pesonanya juga menyimpan cukup banyak kisah. Dari kisah penemuan mayat yang hingga kini masih misteri sampai kisah berlariannya dua sejoli tanpa busana yang lagi menuntaskan libidonya tatkala terkena sorot lampu sepeda motor  Buser yang dalam suatu waktu tanpa sengaja melewati areal patung kuda tepatnya dijalan lama.
Penasaran dengan kenyataan ini, beberapa pekan kemudian Buser pun mulai menelusuri praktek liar para penikmat dan petualang  beberpa pekan lalu kembali menemukan hal yang sama juga pengakuan dari sejumlah pihak bahwa tempat tersebut meruapakn tempat yang memang menjadi langganan untuk menumpahkan hasrat, bercumbu, menghangatkan cinta, berpacaran hingga melakukan hal yang menyimpang. “Di patung kuda memang karena terang hanya ada beberapa pasangan saja dengan motor dan mobil kongkow-kongkow dan menghabiskan malam. Hal yang dilakukan juga masih tergolong wajar, yakni sebatas ciuman dan pelukan hangat. Namun disekitar tempat yang mulai remang dan tidak terjangkau cahaya lampu, kalau saja tiba-tiba disorot dengan lampu, bisa dengan mudah ditemui pasangan-pasangan yang lagi asyik batunggang dan berbuat mesum,” tandas seorang yang enggan identitasnya diekpos mewakili sejumlah komentar senada warga lainnya.
Tidak hanya di sekitar patung kuda, di sekitar sarana peribadatan umat Hindu tidak jauh dari tempat itu juga sering menjadi tempat berpacaran dan tempat mengumbar birahi pasangan-pasangan yang sebenarnya masih tergolong muda bahkan para remaja. “Di sekitar tempat sembayang umat hindu juga sering dipakai tempat gituan. Apalagi, tempat itu hanya dipakai pada saat ada upacara-upacara keagamaan umat Hindu saja, kalau tidak ada katifitas keagamaan maka tempat itu sepi dan yang meramaikan justru pasangan-pasangan muda dan pasangan remaja. Ada baiknya, jika Pol PP Sumtim merazia tempat-tempat itu, karena sangat meresahkan,” tandas sejumlah warga senada.
Malam di kota Waingapu, di padang sabana sekitar patung kuda mulai berlendir dan diramaikan dengan desahan dan lenguhan birahi, menemani sang jangkrik dan binatang lam lainnya.
Ternyata, bukan hanya patung kuda saja yang menjadi tempat favorit para petualang asmara yang diyakini sebagian besarnya terlarang itu. Wilayah pantai Kuta  Londa Lima dan Londa Empat, yang siang harinya cukup ramai dengan para pengunjung dan penikmat pasir putih, gelombang serta hawa laut, pada malam harinyapun mendapat teman yang mengiringi gelora ombaknya. Pasangan-pasangan yang dimabuk ‘dewa amor’, juga menuntaskan hasrat, mengiringi deburan omabk dengan desahan dan rintihan hangat dan mesra penuh arti. “Kalau bisa di pantai kuta Londa lima dan Londa empat juga di razia agar tidak menjadi tempat mesum,” tegas sejumlah warga yang ditemui dan menghubungi Buser beberapa waktu lalu menunjukan kepedulian dan keprihatinannya meski kembali lagi enggan identitasnya di expose.
Ini mungkin sekelumit sisi lain dari geliatnya kota Waingapu, kehidupan malamnyapun mulai bergelora. Masih ada yang mungkin belum terbaca dan masih menjadi rahasia yang hanya menunggu waktu untuk disibak dan terungkap. Tidak terkecuali, ‘Fenomena Dunia Gemerlap’ (Dugem) yang kini mulai menjamah kota Waingapu. Fenomena yang masih belum bisa diterima semua pihak, fenomena yang hingga kini masih terus bergelut dengan kontroversi.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: